Beranda | Artikel
Hiburan Allah Kepada Rasullulah dalam Al-Quran
12 jam lalu

Para Nabi merupakan manusia yang diberikan banyak cobaan oleh Allah Ta’ala, terutama ketika berdakwah. Tidak terkecuali Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau juga mendapatkan banyak cobaan yang berat. Akan tetapi, Allah tidak membiarkan Rasulullah berjuang sendirian di tengah cobaan tersebut. Terkadang Allah hibur Rasulullah melalui ayat-ayat Al-Quran yang turun ketika cobaan itu berlangsung.

Pada artikel ini, akan kita bahas beberapa hiburan Allah kepada Rasulullah dalam ayat-ayat Al-Quran. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:

Surah Ad-Dhuha ayat 1-3

Surah Ad-Dhuha turun ketika seorang wanita, yaitu istrinya Abu Lahab, mengejek Rasulullah karena tidak ada wahyu yang datang ketika Rasulullah sedang sakit sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,

اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ لَمْ أَرَهُ قَرِبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى } قَوْلُهُ

{ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى }

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit hingga beliau tidak bisa bangun selama dua atau tiga malam. Lalu datanglah seorang wanita dan berkata, “Wahai Muhammad, aku benar-benar mengharap bahwa setanmu telah meninggalkanmu. Karena aku tidak melihatnya di dekatmu semenjak dua atau tiga hari ini.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan surat, {WADHDHUHAA WALLAILI IDZAA SAJAA MAA WADDA’AKA RABBUKA WAMAA QALAA} (HR. Bukhari)

Kaum musyrikin ketika itu selalu berusaha untuk menyakiti Rasulullah pada tiap kesempatan yang memungkinkan, salah satunya adalah kisah ini. Akan tetapi, Rasulullah tetap tegar dan Allah pun membela Rasulullah dengan turunnya surah Ad-Dhuha. Allah berfirman yang diawali dengan sumpah terhadap waktu dhuha, lalu menjawab,

مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى

“Rabbmu tidak meninggalkan engkau dan tidak juga membencimu.” (QS. Ad-Dhuha: 3)

Surah Al-An’am ayat 33

Ayat lain yang turun untuk menghibur Rasulullah adalah ayat ke-33 dari surah Al-An’am. Surah ini turun ketika Abu Jahal berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah perkataan yang menyakiti hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam sebuah hadis,

قالَ أبو جَهْلٍ للنَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ : إنَّا لا نُكَذِّبُكَ، ولَكِن نُكَذِّبُ ما جئتَ بِهِ

“Abu Jahal berkata kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, ‘Sebenarnya kami tidak menganggapmu pembohong, tapi kami hanya tidak mempercayai ajaran yang kamu bawa ini.`” (HR. Tirmidzi)

Perkataan Abu Jahal tersebut menyakiti hati Rasulullah, sehingga Allah pun menghibur Rasulullah dengan turunnya surah Al-Anam ayat 33,

قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ

“Kami sungguh tahu bahwa apa yang mereka ucapkan itu benar-benar membuatmu sedih. Namun (ketahuilah), sebenarnya mereka bukan sedang mendustakanmu, melainkan orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)

Allah menghibur Rasulullah pada surat ini diawali dengan mengafirmasi rasa sedih Rasulullah dengan firman-Nya قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ untuk menguatkan hati Rasulullah. Setelah itu, Allah mengatakan bahwa mereka (orang-orang Quraisy) tidak mengatakan bahwa Rasulullah adalah pendusta dan memang demikianlah realitanya. Rasulullah merupakan orang yang paling dipercaya oleh kaum Quraisy pada waktu itu.

Rasulullah merupakan orang yang paling dipercayai ketika itu. Akan tetapi, ketika berkaitan dengan dakwah Islam, banyak dari mereka tidak mau tunduk dan menentang. Pada surah Al-An’am ayat ke-33, Allah menghibur Rasulullah dengan menegaskan keburukan itu ada pada orang Quraisy yang mendustakan dan menolak wahyu dari Allah.

Baca juga: Memperbaiki Hati dan Mengokohkan Iman dengan Al-Quran

Surah Al-Hijr ayat 97-99

Ayat lain yang turun sebagai hiburan Allah kepada Rasulullah adalah surah Al-Hijr ayat 97-99,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ  فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ  وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْن

“Kami sungguh sangat tahu bahwa dadamu terasa sesak karena apa yang mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).”

Ketika Rasulullah diutus menjadi Nabi, beliau menerima banyak cobaan, salah satunya adalah olok-olok dan tuduhan dusta yang keji dari kaum Quraisy. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan di antara pemimpin dari pencaci Rasulullah adalah:

  1. Al-Walid bin al-Mughirah;
  2. Al-Ash bin Wa’il as-Sahmi;
  3. Al-Aswad bin Abdul Muthalib bin Al-Harits.

Mereka ini senantiasa mencaci Rasulullah sehingga membuat sempit dada Rasulullah dikarenakan cacian mereka dan juga pengingkaran mereka terhadap dakwah Nabi. Lalu Allah memvalidasi rasa sedih Rasulullah pada surah Al-Hijr ayat 97 untuk menghibur beliau shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga memberikan solusi untuk mengobati hati beliau yang sakit. Solusi tersebut adalah:

  1. Bertasbih;
  2. Bertahmid;
  3. Bersujud (salat).

Ayat-ayat berupa kisah Nabi terdahulu

Di antara hiburan Allah kepada Rasulullah yang ada dalam Al-Quran adalah ayat-ayat yang mengisahkan perjuangan Nabi dan Rasul terdahulu. Kita semua tahu bahwa orang yang paling besar ujiannya adalah Nabi dan Rasul sebagaimana dalam hadis,

سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya, “Siapa manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau berkata, “Para Nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yang semisal mereka.” (HR. Ad-Darimi)

Oleh karena itu, Allah terkadang menurunkan ayat yang menceritakan kisah para Nabi terdahulu untuk meneguhkan hati Rasulullah. Hal tersebut sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan semua kisah Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Hud: 120)

Di antara ayat yang menceritakan kisah Nabi terdahulu yang turun untuk mengokohkan hati Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah kisah Nabi Musa di surah An-Naziat. Allah Ta’ala berfirman,

هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ إِذْ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ  فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَى فَأَرَىٰهُ ٱلْءَايَةَ ٱلْكُبْرَىٰ فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ فَحَشَرَ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa? Ketika Tuhan memanggilnya di lembah suci, yaitu Lembah Tuwa. “Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?’ Engkau akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?`” Lalu dia (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Namun dia (Fir‘aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling sambil berusaha sungguh-sungguh (menentang Musa). Lalu dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), kemudian berseru memanggil kaumnya, seraya berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi!” (QS. An-Naaziyat: 15-24)

Pada ayat tersebut, Allah ceritakan kisah Nabi Musa yang mendakwahi Fir’aun. Akan tetapi, Fir’aun tidak mau beriman dan malah membangkang dengan berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi!” Pada ayat ini, Allah memberikan contoh kepada Rasulullah agar tidak bersedih ketika dakwah beliau tidak diterima dan banyak yang menolak karena Nabi Musa pun demikian.

Penutup

Allah menakdirkan utusan-Nya untuk mendapatkan ujian yang berat di dunia. Akan tetapi, di balik ujian berat tersebut, Allah memberikan dukungan moral berupa hiburan dan juga petunjuk. Semoga dari contoh-contoh sebelumnya kita bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana Allah menghibur Rasulullah di tengah beratnya cobaan dakwah yang beliau alami.

Baca juga: Teguran Allah kepada Rasulullah dalam Al-Qur’an

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/112088-hiburan-allah-kepada-rasullulah-dalam-al-quran.html